Sebutkan tiga orang perumus naskah proklamasi indonesia

Tiga orang perumus naskah proklamasi indonesia adalah Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Ahmad Subardjo. Penulis naskah proklamasi adalah Ir. Soekarno. Kemudian naskah tulisan tangan itu diketik oleh Sayuti Melik. Naskah proklamasi yang sudah diketik ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Proklamasi Indonesia dilaksanakan pada Hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Peganggsaan Timur Jakarta.

Sekitar pukul 21.00 WIB Soekarno Hatta sudah sampai di Jakarta dan langsung menuju ke rumah Laksamana Muda Maeda, Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta untuk menyusun teks proklamasi. Dalam kondisi demikian, peran Laksamana Maeda cukup penting. Pada saat-saat yang genting, Maeda menunjukkan kebesaran moralnya, bahwa kemerdekaan merupakan aspirasi alamiah dan hak dari setiap bangsa, termasuk bangsa Indonesia.

Tokoh-tokoh perumus teks proklamasi

Berikut ini tokoh-tokoh yang terlibat secara langsung dalam perumusan teks proklamasi.

  1. Ahmad Subardjo mengusulkan konsep kalimat pertama yang berbunyi; “ Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami” kemudian berubah menjadi “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”.
  2. Soekarno menuliskan konsep kalimat kedua yang berbunyi; “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
  3. Mohammad Hatta menggabungkan kedua kalimat di atas dan disempurnakan sehingga berbunyi seperti teks proklamasi yang kita miliki.

Pada waktu Dini hari tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin nasional beserta para pemuda kembali ke rumah masing-masing untuk menyiapkan penyelenggaraan pembacaan teks proklamasi setelah teks proklamasi selesai di rumuskan serta di sahkan (Perumusan dilaksanakan di rumah Laksamana Tadashi Maeda). Saat itu melalui mata-mata nya, Jepang mengetahui rencana dari pembacaan proklamasi dan juga mengira bahwa pembacaan proklamasi akan dilaksanakan di lapangan Ikada, karena itu tentara Jepang memblokade lapangan Ikada. Para Muda telah ramai berdatangan menuju lapangan Ikada dalam rangka menjadi saksi dari pembacaan teks proklamasi. Pemimpin Barisan Pelopor (Sudiro) juga datang ke lapangan Ikada dan juga ikut menyaksikan pasukan Jepang bersenjata lengkap telah memblokade lapangan Ikada. Sudiro lalu melaporkan keadaan itu kepada Muwardi (Kepala Keamanan Bung Karno). Sudiro yang kemudian mengetahui bahwa pembacaan proklamasi dipindahkan dari lapangan Ikada ke rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Bekas rumah Laksamana Maeda saat ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Lokasinya terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1. “Bangunan ini tiga tahun ditempati Maeda. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1927. Dulu berdiri sebagai bangunan pertama yang di Jalan Orange. Itu nama jalan Imam Bonjol dulu. Kalau di jalan di sini, rumah berdiri berdasarkan nomor pertama dibangun,” kata Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Ari Suryanto kepada KompasTravel beberapa waktu lalu.
Replika itu terletak di lantai pertama Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Bangunan dua lantai bergaya arsitektur art deco tersebut dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama J.F.L Blankenberg. Dulunya, bangunan seluas 1.138 meter persegi yang berdiri di tanah seluas 3.914 meter persegi. Lantai pertama, terbujur meja dan kursi tamu tempat Maeda menerima Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo, setibanya mereka dari Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 pukul 22.00 WIB. Di sebelah ruang pertemuan, ada meja makan tempat dirumuskannya naskah Proklamasi.
“Rumah ini awalnya didirikan sebagai rumah sewa. Ini konsep rukan (rumah kantor). Kemudian pecah perang, jadi markas tentara Inggris, dan Kantor Inggris,” .  Ruang tamu ini terbujur meja dan kursi tamu tempat Maeda menerima Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo, setibanya mereka dari Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 pukul 22.00 WIB. Terletak sejajar dengan pintu masuk, ada satu ruangan kecil di bawah tangga, tempat Sayuti Melik ditemani BM Diah mengetik naskah Proklamasi yang sudah disetujui oleh para hadirin perumus naskah.  Salah satu hal yang paling membedakan adalah lantai yang masih tegel berwarna abu-abu. Kontras dengan lantai keramik yang biasa digunakan pada saat ini. Pada lantai dua bekas rumah Maeda, terpajang benda-benda koleksi museum, dari berupa dokumentasi, kertas, buku, pita kaset, kain, pakaian, dan juga piagam. Ada pula kamar mandi di ujung ruangan dengan corak dan komposisi yang sama dengan bagian kanan serta tengah ruangan lantai dua. Pintunya selalu terbuka.
Pada lantai dua bekas rumah Maeda, terpajang benda-benda koleksi museum, dari berupa dokumentasi, kertas, buku, pita kaset, kain, pakaian, dan juga piagam. Pengunjung berada di lantai dua Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Rabu (16/8/2017). Pada lantai dua bekas rumah Maeda, terpajang benda-benda koleksi museum, dari berupa dokumentasi, kertas, buku, pita kaset, kain, pakaian, dan juga piagam.(KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO) Di bagian belakang rumah, terdapat halaman dan taman yang asri. Ada pula dua lubang seukuran sekitar 1,5 meter x 1 meter di sisi kiri taman, satu lubang tersebut merupakan bungker rahasia. Sedangkan satu lubangnya lagi merupakan ventilasi dari bungker. “Bangunan ini tahun 1982 menjadi bangunan cagar budaya. Kami terima bangunan ini dahulu dalam keadaan kosong. Kami lakukan penelitian ke Jepang dan mendapatkan gambaran dari Bu Satzuki Mishima. Dia itu Kepala Rumah Tangga di rumah Maeda dulu,” jelasnya.