Contoh Proses Reaksi Endoterm dan Eksoterm

Contoh proses endoterm dan eksoterm. Fotosintesis adalah contoh dari reaksi kimia endoterm. Dalam proses ini, tanaman menggunakan energi dari matahari untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi glukosa dan oksigen. Reaksi ini membutuhkan 15 MJ energi (sinar matahari) untuk setiap kilogram gula yang dihasilkan:

6CO2 (g) + H2O (l) + sinar matahari → C6H12O6 (aq) + 6O2 (g)

Contoh reaksi eksoterm adalah campuran natrium dan klorin untuk menghasilkan garam dapur. Reaksi ini menghasilkan 411 kJ energi untuk setiap mol garam yang dihasilkan:

Na (s) + 0.5Cl2 (s) → NaCl (s)

Dilansir dari Encyclopedia.com, reaksi endoterm merupakan reaksi kimia dari reaktan yang memiliki entalpi rendah, namun menghasilkan produk dengan entalpi tinggi. Karena entalpi reaktannya rendah, sistem membutuhkan energi tambahan untuk melepaskan ikatan sehingga terjadilah penyerapan kalor dari lingkungan sekitarnya ke sistem.

Reaksi eksoterm adalah reaksi kimia dengan sistem melepaskan kalor. Pada reaksi eksoterm, suhu campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun sehingga sistem melepaskan kalor ke lingkungannya. Reaksi eksoterm ada yang terjadi secara alami dan ada yang terjadi secara buatan. Reaksi eksoterm alami merupakan proses reaksi di alam yang berlangsung spontan dengan melepaskan energi. Misalnya, besi berkarat, air mengalir, ledakan bom, pertunjukan kembang api, dan pembakaran kayu.

Rekasi eksoterm buatan merupakan reaksi eksoterm hasil percobaan di laboratorium. Misalnya, reaksi natrium peroksida dengan air, reaksi HCL dan serbuk Zn, pencampuran air dengan asam pekat, penambahan air kedalam tembaga sulfat anhidrat, dan reaksi besi (III) oksida dengan logam aluminium (reaksi termit). Reaksi eksoterm pada umumnya berlangsung spontan, sedangkan reaksi endoterm tidak.

Baca Juga  Kegunaan Unsur Arsen dan Sejarah Unsur Arsen

Pada reaksi endoterm : DH = Hp – Hr > 0 ( bertanda positif ).

Pada reaksi eksoterm : DH = Hp – Hr < 0 ( bertanda negatif ).

Pada reaksi eksoterm , sistem membebaskan energi, sehingga entalpi sistem akan berkurang, artinya entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu , perubahan entalpinya bertanda negatif.

Reaksi kimia seperti pembakaran, fermentasi, dan reduksi dari bijih menjadi logam sudah diketahui sejak dahulu kala. Teori-teori awal transformasi dari material-material ini dikembangkan oleh filsuf Yunani Kuno, seperti Teori empat elemen dari Empedocles yang menyatakan bahwa substansi apapun itu tersusun dari 4 elemen dasar: api, air, udara, dan bumi. Di abad pertengahan, transformasi kimia dipelajari oleh para alkemis. Mereka mencoba, misalnya, mengubah timbal menjadi emas, dengan mereaksikan timbal dengan campuran tembaga-timbal dengan sulfur.

Produksi dari senyawa-senyawa kimia yang tidak terdapat secara alami di bumi telah lama dicoba oleh para ilmuwan, seperti sintesis dari asam sulfur dan asam nitrat oleh alkemis Jābir ibn Hayyān. Proses ini dilakukan dengan cara memanaskan mineral-mineral sulfat dan nitrat, seperti tembaga sulfat, alum dan kalium nitrat. Pada abad ke-17, Johann Rudolph Glauber memproduksi asam klorida dan natrium sulfat dengan mereaksikan asam sulfat dengan natrium klorida.

Dengan adanya pengembangan lead chamber process pada tahun 1746 dan proses Leblanc, sehingga memungkinkan adanya produksi asam sulfat dan natrium karbonat dalam jumlah besar, maka reaksi kimia dapat diaplikasikan dalam industri. Teknologi asam sulfat yang semakin maju akhirnya menghasilkan proses kontak di tahun 1880-an, dan proses Haber dikembangkan pada tahun 1909–1910 untuk sintesis amonia.