Jelaskan dampak negatif DDT

Dampak negatif DDT. Banyak negara menghentikan penggunaan insektisida DDT karena selain tidak dapat diuraikan dan tidak dapat dikeluarkan dari dalam tubuh, DDT juga merugikan bagi organisme yang memakannya. Selain bersifat merusak jaringan dan berpotensi menimbulkan kanker, senyawa ini juga menghambat proses pengapuran kulit telur pada burung. Akibatnya, berbagai populasi burung bisa mengalami penurunan akibat telur-telurnya gagal menetas. Bahkan, karena sifatnya yang tidak terurai, DDT bisa terbawa air sampai ke perairan yang jaraknya sangat jauh dari sumber pencemaran.

Ahli Kimia Swiss Paul Hermann Müller dalam 1948 mendapatkan penghargaan nobel atas penemuan DDT yang ampuh melawan serangga. Penggunaan DDT berkembang pesat setelah perang dunia kedua, tetapi konsekuensi ekologis belum begitu dirasakan. Tahun 1950, ilmuan telah mempelajari bahwa DDT akan tetap bertahan dalam lingkungan dan ditransportasi oleh air menuju area yang lebih jauh dari tempat.

Dampak yang pertama kali dirasakan pada tahun 1950 adalah penurunan populasi burung pelikan, elang tiram, dan elang, burung-burung tersebut merupakan puncak dari jaring makanan. Setelah diteliti, ternyata DDT dapat menurunkan jumlah kalsium pada cangkang telur. Ketika burung tersebut mengerami telur, telur tersebut pecah karena tidak mampu menahan bobot inang. Sehingga pada tahun 1971, DDT dilarang dari Amerika Serikat.

Hingga saat ini DDT masih digunakan untuk mengendalikan nyamuk yang menyebarkan malaria dan penyakit lainnya, tetapi jumlahnya sudah semakin berkurang dengan adanya alternatif seperti penggunaan kawat nyamuk.

Penggunaan DDT ini sudah mulai ketika terjadi perang dunia ke-I di Amerika Serikat untuk mengusir nyamuk penyebab malaria dan kutu yang saat itu mewabah. Awalnya, penggunaan DDT ini memang dapat menurunkan serangan dari kedua jenis hama tersebut secara signifikan. Namun ternyata, beberapa saat setelah dilakukan pengendalian muncul kontroversi dari penggunaan DDT itu sendiri, terutama karena bahaya yang terdapat di dalamnya.

 

Pada serangga memang beberapa jenis akan mati, namun ada beberapa serangga yang mampu bertahan pada zat DDT ini yang akan menyebabkan mutasi gen dimana serangga ini menjadi tahan terhadap DDT.

Dari hasil uji coba yang pernah dilakukan, DDT merupakan racun insektisida yang cukup ampuh. Ini terlihat dari hasil sampel penelitian menggunakan tikus yang sudah diberikan zat DDT sebesar 113 mg/kg yang mana tikus tersebut mati secara spontan karena zat DDT langsung menyerang dan membakar organ dalam tubuh tikus tersebut.

Dichloro Diphenyl Trichloroethane adalah insektisida paling ampuh yang pernah ditemukan dan digunakan manusia dalam membunuh serangga, tetapi juga paling berbahaya bagi manusia, sehingga dijuluki “The Most Famous and Infamous Insecticide”.

 

Setidaknya terdapat dua sifat buruk yang membuat DDT ini menjadi sangat berbahaya bagi lingkungan hidup. Pertama, DDT memiliki sifat apolar, dimana zat ini tidak bisa larut namun sangatlah larut dalam lemak. Jadi semakin larut suatu senyawa dalam lemak maka akan semakin tinggi sifat apolarnya dan hal inilah yang membuat DDT menjadi sangat mudah menembus kulit.

Kedua, sifat DDT yang sangat stabil dan persisten. Hal ini berarti DDT tidak bisa larut dan hilang begitu saja jika sudah dilepaskan di lingkungan, sebaliknya justru akan bertahan dan dapat masuk ke dalam rantai makanan. Hal ini membuat DDT akan bertahan lama di dalam tanah dan bahan organik lainnya.