Fungsi kaporit dalam pengolahan air minum

Fungsi kaporit dalam pengolahan air minum adalah untuk membunuh bakteri-bakteri. Proses pengolahan air untuk keperluan air minum dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Pada air yang kotor ditambahkan tawas untuk mengendapkan kotoran, atau lumpur, sehingga setelah melalui tahap penyaringan diperoleh air yang bersih.

b. Sifat asam dari air dapat dinetralkan dengan menambahkan air kapur

c. Penambahan kaporit dapat digunakan untuk membunuh bakteri-bakteri.

Kalsium hipoklorit atau lebih dikenal sebagai kaporit, adalah salah satu jenis desinfektan yang biasa digunakan di air kolam renang. Kaporit umumnya berbentuk bubuk putih yang akan terpecah di dalam air menghasilkan oksigen dan gas klorin yang berbau menyengat.

Fungsi kaporit pada air kolam renang tidak hanya untuk membunuh bakteri-bakteri patogen yang tersebar pada air kolam renang, tetapi juga untuk menjernihkan air kolam renang. Penggunaan kaporit pada kolam renang harus disesuaikan dengan konsentrasi yang dibutuhkan dan batas aman yang telah ditetapkan oleh badan regulasi. Konsentrasi kaporit yang kurang dapat menyebabkan bakteri patogen yang ada di kolam renang tidak terbabat habis sehingga bisa menyebabkan penyebaran penyakit menular. Sedangkan konsentrasi kaporit yang berlebihan akan menyebabkan bahaya bagi kesehatan karena gas klorin yang tersisa pada air kolam renang.

Penggunaan kaporit dengan ukuran yang tepat pada industri pengolahan air bersih, menjadi syarat mutlak dalam standar perusahaan air bersih. “Pemberian kaporit yang tepat jadi sebuah persyaratan penting dalam standar di perusahaan pengolahan air bersih. Air berbau kaporit menandakan bahwa air tersebut dipastikan aman untuk digunakan. Kaporit atau disebut juga klorin merupakan bahan kimia aktif yang berfungsi untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme lainnya dalam proses pengolahan air minum.

Jenis zat kimia
Zat kimia yang terlibat dalam pengolahan air bisa dibagi menjadi empat macam. Ada sebagai penjernih, sebagai pembasmi bakteri, sebagai penstabil air, dan sekadar zat tambahan. Ujudnya ada yang padat, ada yang cair, ada yang gas. Cara pembubuhan atau injeksinya pun bermacam-macam.
Berkaitan dengan zat kimia itu, ada kisah menarik. Sebuah kota, namanya San Paolo, ditimpa masalah. Air ledengnya yang diambil dari Danau Chavez tercemar berat. Ribuan orang lantas sakit dan ratusan tewas. Mereka tak mau lagi minum air ledeng itu. Buat kumur-kumur dan menyikat gigi saja takut. Terjadilah krisis air minum. Ribuan liter air bersih terpaksa dikirim dari kota-kota terdekat, mirip kasus tsunami di Aceh atau gempa di Nias. Orang-orang antri air minum kemasan (amik). Praktisi sanitasi bekerja keras menemukan sebabnya. Dan yang diduga menjadi sebabnya adalah PAC (polyaluminum chloride). Ternyata keliru. Lalu tawas yang telah digunakan selama 50 tahun disinyalir sebagai sebabnya. Lagi-lagi nihil hasilnya. Kasusnya terus muncul dan orang-orang yang tewas terus bertambah.
Akhirnya disimpulkan, wabah itu bukan karena PAC atau tawas tapi ada sesuatu yang lain. Apakah itu? Setelah lama diselidiki, ternyata cryptosporidium-C pelakunya. Mikroba dari grup protozoa ini mampu membentuk spora di usus halus manusia lalu menghalangi penyerapan air sehingga penderitanya menjadi haus terus. Mikroba ini pun tak mempan dibasmi dengan klor atau kaporit dan tahan dalam air mendidih lebih dari sepuluh menit. Luar biasa! Setelah berkali-kali dicoba barulah diketahui bahwa ozon mampu membasmi parasit itu. Direktur “PDAM” San Paolo lantas menggunakan ozon untuk membasminya. Aman lagilah air danau itu dan siap diolah untuk didistribusikan ke pelanggannya. Begitulah kisah film Thirst (haus, dahaga).

 

 

Loading...

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *