Apa yang dimaksud dengan Epistasis

Epistasis adalah bentuk interaksi antara gen nonallel di mana salah satu kombinasi gen tersebut memiliki efek dominan atas kombinasi lainnya.

Istilahnya epistasis ini menjelaskan hubungan tertentu antara gen, di mana alel dari satu gen menyembunyikan gen lainnnya. Epistasis sama sekali berbeda dari yang dominan dan resesif, yang adalah istilah yang berlaku untuk alel yang berbeda dari gen yang sama.

Epistatis dikelompokan menjadi epistatis dominan dan epistatis resesif. Pengertian Bateson yang bersifat genetika Mendel (kualitatif) tersebut dikembangkan oleh Ronald Fisher (1918) menjadi lebih umum pada sifat kuantitatif dan mencakup semua bentuk interaksi antarlokus. Dalam pengertian genetika kuantitatif, epistasis (Fisher pertama kali menggunakan istilah epistacy) adalah interaksi antara dua atau lebih lokus yang mengendalikan sifat (kuantitatif) tertentu yang sama. Epistasis dalam pengertian Fisher bersifat statistik karena didefinisikan sebagai penyimpangan dari nilai harapan.

Pada umumnya, istilah yang satu ini sering kali digunakan, terutama dalam membahas pemyimpangan semu hukum Mendel. Bagi anda yang masih asing dengan teori atau hukum Mendel, secara singkat dapat dikatakan bahwa hukum Mendel berisi tentang hereditas pada makhluk hidup.Makhluk hidup disini tidak hanya manusia saja, melainkan tumbuhan dan hewan. Hal ini dimulai pada tahun 1906 ketika W. Bateson dan R.C Punnet  menemukan bahwa pada persilangan F2 dapat dihasilkan fenotipe 14 : 1 : 1 : 3.

Mereka menyilangkan kacang kapri yang berbunga ungu dan serbuk sarinya berbentuk lonjong dengan bunga merah yang serbuk sarinya bulat. Rasio fenotip dari keturunan ini menyimpang dari hukum Mendel yang seharusnya berada pada keturunan kedua (F2) yang perbandingan rasionya 9 : 3 : 3 : 1. Kemudian misteri tersebut dipecahkan oleh T.H Morgan yang merupakan seorang sarjana Amerika yang menemukan bahwa kromosom mengandung banyak gen dan mekanisme pewarisannya sendiri telah menyimpang dari hukum Mendel II.

Peristiwa epistasis dan hipostasis telah ditelaah oleh Nelson dan Ehle dengan mencoba menyilangkan tanaman gandum yang kulit bijinya hitam (HHkk) dengan tanaman gandum yang kulit bijinya kuning (hhKK). Keturunan F1 semuanya berkulit biji hitam (HhKk). Dari susunan genotif pada F1 menunjukkan bahwa sifat warna biji hitam lebih dominan terhadap kuning. F1 disilangkan sesamanya menghasilkan F2 dan diperoleh perbandingan 12 hitam : 3 kuning : 1 putih. Jika perbandingan F2 diamati, merupakan perbandingan yang mirip dengan perbandingan pada persilangan dihibrid yaitu (9 + 3) : 3 : 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa:
  • Sifat hitam dominan terhadap kuning
  • Sifat kuning dominan terhadap putih
  • Sifat hitam epistasis terhadap sifat kuning dan sifat kuning hipostasis terhadap hitam.